Ketika aku memalingkan wajah di hadapanmu, bukan karena aku benci. Tapi itu aku lakukan karena aku menanti
mata indahmu halal untukku. Setiap detik dalam detak jantungku, aku tak pernah
berharap semua itu akan menjelma menjadi sebuah kerinduan. Karena aku tahu merindu adalah hal yang menyakitkan dan aku ingin
menjaga kehormatanmu sebagaimana kau menjaga kehormatanku. Kau adalah bagian dari imajinasiku. Sangat sederhana jika kamu tahu itu. Tapi aku tak mampu. Tak mampu untuk mengungkapkannya. Dan karena itulah, aku membiarkanmu pergi. Hingga kau lupa untuk kembali. Di jantung rinduku, kau adalah bayangan yang mengenalkan dan mengkekalkan kehilangan. Kini, kita sama-sama memalingkan wajah dari kejauhan. Kita tak pernah tahu takdir, tapi kita tahu bahwa ada Dia di antara kita. Sang Maha Cinta.